Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak lebih cerah dari biasanya, seolah memberikan restu untuk rencana yang sudah kami susun di grup WhatsApp selama berminggu-minggu. Sekitar pukul 07:15, satu per satu dari kami berdelapan mulai muncul di titik kumpul, Dermaga Muara Kamal. Ada yang datang dengan mata masih mengantuk, ada yang sudah lengkap dengan kacamata hitam dan topi pantai, dan tentu saja, ada drama standar “gue udah di jalan” padahal baru saja kunci pintu rumah.
Suasana dermaga pagi itu cukup sibuk. Bau air laut yang bercampur solar kapal dan keriuhan nelayan yang baru pulang melaut memberikan sensasi petualangan yang nyata. Setelah urusan sewa kapal beres—sebuah kapal kayu tradisional yang cukup lega untuk kami berdelapan—kami mulai naik satu per satu. Suara mesin kapal yang berat mulai menderu, membelah air laut yang warnanya perlahan berubah dari cokelat keruh menjadi hijau kebiruan seiring kami menjauh dari daratan Jakarta.
Destinasi pertama kami adalah Pulau Kelor. Begitu kapal merapat di dermaga kayu yang kecil, kami langsung disambut oleh gagahnya Benteng Martello. Benteng melingkar dari bata merah ini terlihat sangat kontras dengan hamparan pasir putih dan langit biru yang bersih. Kami tidak langsung foto-foto; kami terdiam sebentar, menikmati angin laut yang kencang dan suara ombak yang menghantam sisa-sisa reruntuhan.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama. Namanya juga pergi dengan tujuh teman lainnya, suasana langsung berubah jadi sesi pemotretan massal. Ada yang sibuk mencari angle dari dalam lubang jendela benteng, ada yang nekat naik ke gundukan bata demi foto estetik, dan sisanya asyik bercanda di pinggir pantai. Pulau ini memang kecil, tapi setiap sudutnya punya cerita yang kuat.
Menjelang tengah hari, matahari mulai terasa menyengat tepat di atas kepala. Kami memutuskan pindah ke Pulau Onrust. Jaraknya tidak jauh, tapi suasananya berubah total. Kalau Kelor terasa terbuka dan panas, Onrust justru sangat rindang dengan pohon-pohon tua yang raksasa. Akar-akar pohon itu melilit di sisa-sisa bangunan Belanda, memberikan kesan eksotis sekaligus sedikit misterius.
Di sini, kami benar-benar menikmati waktu. Kami menggelar tikar di bawah naungan pohon besar yang anginnya sepoi-sepoi. Menu makan siang kami sederhana—nasi bungkus yang kami beli di pasar dekat dermaga tadi pagi—tapi rasanya jauh lebih enak dari makan di mal. Kami makan sambil mendengarkan salah satu teman yang sok tahu (tapi menghibur) membacakan sejarah Onrust dari internet tentang bagaimana pulau ini dulu jadi tempat karantina haji dan pusat galangan kapal VOC. Setelah makan, kami jalan-jalan kecil ke area pemakaman tua dan museumnya yang sunyi. Onrust punya cara unik untuk membuat kita merasa sedang berada di masa lalu.
Sekitar jam dua siang, kapal membawa kami ke tujuan terakhir, Pulau Cipir. Pulau ini letaknya berseberangan langsung dengan Onrust. Di Cipir, suasananya jauh lebih santai. Kami tidak lagi ambisius mencari sejarah, melainkan hanya ingin menikmati sisa hari. Ada jembatan beton panjang yang menjorok ke arah laut, tempat favorit kami untuk sekadar duduk berjajar, menggoyangkan kaki di atas air, dan melakukan deep talk—dari soal resolusi tahun ini sampai masalah kerjaan yang nggak habis-habis.
Beberapa dari kami sempat jajan es kelapa muda dari warung kecil di sana. Sambil menyesap air kelapa, kami melihat beberapa anak nelayan setempat yang asyik loncat dari dermaga ke laut dengan ceria. Rasanya waktu melambat di sini.
Pukul empat sore, abang kapal memberi kode bahwa kita harus segera balik karena ombak mulai agak tinggi. Kami naik ke kapal dengan langkah yang lebih berat—bukan karena capek, tapi karena enggan pulang. Di perjalanan balik, suasana kapal lebih tenang. Matahari mulai turun, menciptakan semburat warna oranye dan ungu di cakrawala. Kami semua hanya duduk diam, menatap laut, sambil mendengarkan lagu-lagu santai dari speaker Bluetooth yang dibawa salah satu teman.
Kami sampai kembali di Muara Kamal tepat saat langit mulai gelap. Kaki kami terasa sedikit goyang saat menapak di daratan, kulit terasa perih karena terbakar matahari dan garam, tapi wajah semua orang terlihat puas. Sebelum benar-benar bubar, kami mampir dulu ke tukang bakso di dekat parkiran. Di sana, sambil menyeruput kuah hangat, kami sudah mulai merencanakan trip selanjutnya. Ternyata, nggak butuh waktu lama atau biaya mahal untuk bikin memori yang bakal kami ceritakan sampai bertahun-tahun ke depan.