Hari 1 – Menuju Ujung Jawa dan Menyeberang ke Pulau Sunyi
Pagi itu masih gelap ketika kami berenam — aku, Sinta, Bayu, Rani, Dimas, dan Cika — berkumpul di stasiun kecil di Serang. Tujuan kami: Pulau Tinjil, sebuah pulau kecil di selatan Pandeglang, Banten, yang terkenal sebagai pulau penelitian monyet, bukan tempat wisata biasa. Justru karena itulah kami tertarik — mencari pengalaman baru, bukan sekadar pantai komersial yang ramai.
Kami menempuh perjalanan darat menuju Pelabuhan Muara Binuangeun, sekitar 6 jam perjalanan. Mobil melaju melewati sawah hijau, perkampungan nelayan, dan jalanan yang perlahan berubah menjadi jalur pesisir. Begitu sampai di pelabuhan, udara laut langsung terasa — asin, lembap, dan penuh aroma ikan segar.
Di pelabuhan, kami bertemu petugas yang mengatur penyeberangan menuju Pulau Tinjil. Karena pulau ini wilayah riset Lembaga Biologi Nasional, kami harus mengurus izin masuk terlebih dahulu. Setelah urusan administrasi selesai dan logistik aman, kami naik ke perahu kayu bermesin diesel — perjalanan laut memakan waktu sekitar 2 jam.
Selama di perahu, angin laut menampar lembut wajah kami. Ombak bergulung, burung camar sesekali terbang rendah, dan di kejauhan tampak siluet pulau kecil di tengah biru laut — Pulau Tinjil. Semakin mendekat, makin jelas pantainya yang berpasir putih dan rimbun pepohonan hijau di tengahnya.
Sesampainya di pulau, kami disambut oleh seorang petugas riset yang ramah. Ia memperingatkan,
“Jangan kaget kalau banyak monyet berkeliaran. Mereka di sini penduduk asli.”
Kami tertawa, tapi tak menyangka seberapa serius ucapannya.
Begitu kami menurunkan barang-barang dari perahu, sekawanan monyet ekor panjang muncul dari balik semak, mengamati kami dengan rasa ingin tahu. Untungnya, mereka tidak agresif — hanya penasaran dan cepat berlari saat kami tertawa keras.
Malam itu kami menginap di pondok penelitian sederhana. Tanpa sinyal ponsel, tanpa lampu kota — hanya suara serangga dan ombak yang beradu di kejauhan. Kami menyalakan lampu petromaks, makan malam dengan mie instan dan ikan kering, lalu duduk di depan pondok menatap langit penuh bintang.
“Bayangin, di kota langit kayak gini udah gak kelihatan,” kata Cika pelan.
“Makanya sesekali harus hilang dari dunia,” jawab Dimas, sambil menatap bintang jatuh yang melintas cepat.
Hari 2 – Eksplorasi Pulau dan Petualangan Bersama “Penduduk Asli”
Pagi-pagi, suara monyet sudah terdengar dari pepohonan. Kami bangun, menyeruput kopi sambil menatap matahari muncul dari balik laut. Cahaya oranye menyapu pasir putih — dan di situ, puluhan monyet mulai berkeliaran di sekitar pondok, mencari sisa buah yang kami simpan semalam.
Setelah sarapan, kami memulai eksplorasi keliling pulau. Pulau Tinjil tidak besar — luasnya sekitar 600 hektar — tapi penuh vegetasi tropis dan jalur tanah yang bisa dijelajahi. Kami berjalan kaki menyusuri hutan kecil, melihat pohon-pohon besar dengan akar menjalar, dan mendengar kicauan burung liar yang belum pernah kami dengar sebelumnya.
Di sisi timur pulau, kami menemukan pantai kecil tersembunyi, pasirnya halus dan lautnya jernih biru toska. Kami berenang, snorkeling dengan peralatan seadanya, dan mengabadikan momen di bawah air. Airnya bening sekali, sampai kami bisa melihat ikan kecil menari di antara batu karang.
Siangnya, kami kembali ke pondok untuk makan. Beberapa monyet “tamu” datang, mencoba mencuri buah pisang dari meja. Rani mencoba menakut-nakuti dengan tepukan tangan, tapi malah dikerubungi monyet lain — tawa kami pecah tak berhenti.
Sore menjelang, kami naik ke bukit kecil di tengah pulau. Dari atas, laut terlihat luas tak bertepi. Angin laut menerpa wajah, dan matahari perlahan turun ke ufuk barat. Saat langit berubah warna keemasan, kami semua terdiam. Momen itu terasa sakral — sunyi, indah, dan jujur.
Malam kedua, kami menyalakan api unggun di tepi pantai. Bayu memainkan gitar, kami bernyanyi dengan suara seadanya. Di tengah lagu, seekor monyet duduk di pohon tak jauh dari kami, menonton seperti penonton setia. Kami menamai dia “Raka”, anggota ke-6 tim malam itu.
Hari 3 – Perpisahan dan Refleksi
Hari terakhir selalu datang terlalu cepat. Setelah sarapan, kami berkemas, memastikan tak meninggalkan sampah atau jejak yang mengganggu ekosistem pulau. Sebelum naik ke perahu, kami duduk sejenak di dermaga kecil, memandangi laut yang berkilau diterpa cahaya pagi.
“Lucu ya, tempat terpencil begini justru bikin kita ngerasa lebih dekat,” kata Sinta.
“Mungkin karena di sini gak ada distraksi,” jawabku. “Cuma kita, laut, dan waktu.”
Saat perahu mulai menjauh, siluet Pulau Tinjil perlahan mengecil di cakrawala. Seekor monyet terlihat duduk di tepi pantai, seolah mengantar kami pergi. Kami melambaikan tangan, sambil berjanji akan kembali — bukan sekadar untuk berlibur, tapi untuk mengingat ketenangan yang pernah kami temukan di pulau sunyi itu.
Pulau Tinjil mengajarkan kami bahwa keindahan sejati sering tersembunyi di tempat yang sulit dijangkau. Tidak ada resor mewah, tidak ada sinyal, tidak ada keramaian — hanya alam, keheningan, dan persahabatan yang terasa lebih nyata dari sebelumnya.
Tiga hari di sana bukan hanya perjalanan wisata, tapi perjalanan kembali ke diri sendiri.